Isi Dauroh Syaikh Amin Asy-Syinqithi: Pentingnya Ilmu Nahwu dan Kehati-hatian Menafsirkan Al-Qur’an
Dalam salah satu sesi Dauroh Ilmiyah, Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi menyampaikan penjelasan mendalam tentang urgensi ilmu alat, khususnya ilmu nahwu, dalam memahami bahasa Arab dan nash-nash syariat.
Beliau memulai dengan kisah terkenal dari Abu Al-Aswad Ad-Du’ali, tokoh yang masyhur sebagai peletak dasar ilmu nahwu. Dikisahkan, putri Abu Al-Aswad pernah berkata kepada ayahnya:
> يا أبي ما أشد الحر
“Wahai ayahku, apa yang paling panas?”
Mendengar ucapan tersebut, sang ayah menjawab:
> أيامنا ذالك
“Hari-hari kita ini.”
Namun ternyata maksud sang anak bukanlah bertanya, melainkan mengungkapkan rasa takjub terhadap panasnya hari. Maka Abu Al-Aswad pun menasihati putrinya, bahwa jika yang dimaksud adalah ungkapan takjub, seharusnya diucapkan:
ما أشدَّ الحر
“Betapa panasnya hari ini.”
Dari kisah ini, Syaikh Amin menegaskan bahwa meskipun lafaz kalimatnya sama, perbedaan harakat dapat mengubah makna secara total. Pada kalimat ما أشدُّ الحر dengan dhammah, kata ما berfungsi sebagai istifhām (kalimat tanya) yang membutuhkan jawaban. Sedangkan pada ما أشدَّ الحر dengan fathah, kata ما berfungsi sebagai ta‘ajjub (ungkapan kekaguman). Inilah bukti nyata betapa pentingnya ilmu nahwu dalam memahami bahasa Arab dan teks-teks keagamaan.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ilmu manthiq memiliki keterkaitan erat dengan nahwu, karena sama-sama membutuhkan penetapan hukum, yakni mahkūm ‘alaih dan mahkūm bih, agar pemahaman tidak melenceng.
Dalam pembahasan selanjutnya, Syaikh Muhammad Amin mengulas tentang sejarah pemikiran Mu‘tazilah. Beliau mengaitkannya dengan sabda Rasulullah ﷺ tentang perpecahan umat:
إن بني إسرائيل تفرقت إلى ثنتين وسبعين ملة، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة
Artinya: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.”
Ketika para sahabat bertanya siapa golongan yang selamat itu, Rasulullah ﷺ menjawab:
“Yaitu yang mengikuti ajaranku dan ajaran para sahabatku.”
Syaikh Amin menambahkan bahwa munculnya Mu‘tazilah oleh sebagian ulama dikaitkan dengan masa Hasan al-Basri, sementara pendapat lain menyebutkan kemunculannya setelah wafatnya beliau, pada masa tokoh-tokoh tertentu di Basrah.
Beliau kemudian menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan akal semata. Para sahabat Nabi sangat berhati-hati dalam menjelaskan makna Al-Qur’an, karena mereka menyadari bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang hanya dapat dipahami dengan bekal ilmu-ilmu Al-Qur’an, seperti asbābun nuzūl dan uslūb bahasa Arab. Salah satu sahabat yang terkenal kepakarannya dalam tafsir adalah Abdullah bin Abbas, berkat doa Rasulullah ﷺ:
اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل
“Ya Allah, fahamkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir.”
Syaikh Amin juga mengingatkan hadits Rasulullah ﷺ:
من قال في القرآن برأيه وبما لا يعلم فليتبوأ مقعده من النار
Artinya: “Barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri dan tanpa ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”
Sebagai penutup materi, beliau menasihati agar kaum muslimin tidak sembarangan menafsirkan Al-Qur’an dengan logika pribadi. Setiap penjelasan tentang Al-Qur’an harus disandarkan kepada kitab-kitab tafsir yang mu‘tabar, hadits Nabi ﷺ, serta penjelasan para ulama. Dengan demikian, pemahaman agama akan tetap berada di atas manhaj yang lurus dan terjaga dari penyimpangan.
