Ashabul Kahfi (Para Penghuni Gua) merupakan salah satu kisah agung yang diabadikan Allah ﷻ dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Kahfi. Selain mengandung pelajaran tentang keimanan dan keteguhan aqidah, para ulama juga menuturkan berbagai riwayat mengenai keutamaan dan manfaat penyebutan nama-nama Ashabul Kahfi, sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab turats.
Keterangan dalam Kitab Khazīnatul Asrār
Dalam Kitab Khazīnatul Asrār halaman 84 disebutkan bahwa Imam al-Naisaburi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumā, bahwa nama-nama Ashabul Kahfi memiliki berbagai manfaat apabila ditulis atau digunakan dengan niat tabarruk (mengharap keberkahan), di antaranya:
1. Memadamkan api
Nama-nama Ashabul Kahfi ditulis pada sehelai kain, kemudian dilemparkan ke tengah api.
2. Menghentikan tangisan bayi
Nama-nama tersebut diletakkan di bawah kepala bayi yang berada di dalam ayunan.
3. Keperluan pertanian
Nama-nama Ashabul Kahfi ditulis di atas kertas, lalu digantungkan pada kayu yang ditancapkan di tengah ladang.
4. Menangkal gangguan dan memperoleh kemuliaan
Digunakan untuk menghilangkan bau tak sedap, demam tiga hari, sakit kepala, menjaga kekayaan dan kehormatan, serta mempermudah urusan ketika menghadap para penguasa, dengan cara diikatkan pada paha kanan.
5. Mempermudah persalinan
Nama-nama tersebut diikatkan pada paha kiri perempuan yang akan melahirkan.
6. Perlindungan dan keselamatan
Untuk menjaga harta, keselamatan perjalanan laut, dan perlindungan dari pembunuhan.
Semua manfaat ini disampaikan dalam kerangka riwayat ulama dan amalan yang bersifat atsar, bukan sebagai kewajiban syariat. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Nama-Nama Ashabul Kahfi
Adapun nama-nama Ashabul Kahfi sebagaimana disebutkan dalam riwayat adalah:
Yamlikhā
Maksyalinīyā
Masyalinīyā
(Mereka adalah penghuni sisi kanan Raja Dikyanus yang zalim)
Marnūsy
Darnūsy
Syadnūsy
(Mereka adalah penghuni sisi kiri)
Keenam orang ini merupakan tokoh yang biasa diajak bermusyawarah oleh Raja Dikyanus dalam urusan penting. Adapun yang ketujuh adalah seorang penggembala yang kemudian mengikuti mereka, bernama:
Kafasythātyūsy
Sedangkan anjing yang setia menemani mereka bernama:
Qitmīr, dengan warna cokelat atau kuning kemerahan.
Kota tempat tinggal mereka dikenal dengan nama Efesus pada masa Jahiliyah, dan dalam masa Islam disebut Tharsus, yang berada dekat Kota Konya di wilayah timur. Keterangan ini disebutkan dalam beberapa kitab tafsir, antara lain:
Tafsīr al-Kasysyāf
Tafsīr al-Kabīr
Tafsīr al-Qurthubi
Tafsīr al-Basīth
Hadis tentang Penulisan Nama Ashabul Kahfi
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ajarkanlah kepada anak-anak kalian nama-nama Ashabul Kahfi. Sesungguhnya apabila nama-nama itu ditulis pada pintu rumah, maka rumah tersebut tidak akan terbakar; jika ditulis pada barang-barang, maka barang-barang itu tidak akan dicuri; dan jika ditulis pada perahu, maka perahu itu tidak akan tenggelam.”
Nama-nama yang disebutkan dalam riwayat ini adalah: Yamlikhā, Masyalinīyā, Marnūsy, Dabarnūsy, Syadzānūsy, Kafasythūtyūsy, dan Qitmīr (nama anjingnya).
Riwayat ini disebutkan dalam kitab Majmū‘ah Fāidiyah.
Petunjuk Penulisan Nama Ashabul Kahfi
Diriwayatkan dari Abu Sa‘id Muhammad al-Mufti al-Khādim rahimahullāh, beliau berkata:
“Aku pernah bermimpi bertemu dengan Ashabul Kahfi. Aku berkata kepada mereka: ‘Kami menuliskan nama-nama kalian yang mulia sebagai bentuk keberkahan untuk beberapa keperluan, namun kami tidak menemukan pengaruhnya. Beritahukanlah kepada kami caranya.’ Mereka menjawab: ‘Tulislah nama-nama kami dalam bentuk lingkaran, dan letakkan nama Qitmīr di tengahnya.’”
Penutup
Keterangan-keterangan di atas menunjukkan betapa luasnya khazanah ulama dalam menjelaskan kisah Ashabul Kahfi, tidak hanya dari sisi sejarah dan tafsir, tetapi juga dari aspek barakah dan pengamalan tradisi umat. Namun demikian, semua amalan tersebut hendaknya dipahami sebagai ikhtiar spiritual yang tetap bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah ﷻ, serta tidak bertentangan dengan aqidah dan syariat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
